Saturday, October 7, 2017

Quo Vadis Makassar Menuju Kota Dunia?




Masih terasa hangat bagi masyarakat Kota Makassar, euforia dari gemerlapnya pelaksanaan kegiatan F8 yang telah menyihir jutaan penduduk Kota Makassar, melalui gerak indah tradisi berbagai kebudayaan Bugis-Makassar. Dimulai dari lezatnya jajanan kuliner khas Kota Daeng yang disuguhkan, hingga berbagai seni pertunjukan yang memanjakan mata, telinga, dan perasaan kita. Kegiatan ini juga tidak hanya menghadirkan pertunjukan budaya dari daerah saja, tapi bahkan cahaya gemerlapnya diterangi dengan penampilan seniman  dari berbagai penjuru dunia, yang membuat kita seharianpun tak merasa jenuh bahkan sampai lupa waktu dibuatnya. Beranjak dari sinilah, sang dirigen Kota Makassar, dalam hal ini Walikota Makassar, membuktikan kepada masyarakat luas, bahwa Kota Makassar akan menjadi Kota Dunia, seperti yang beliau idam-idamkan hingga hari ini.

Terlepas dari itu, secara terminologi, Kota Dunia sama sekali tidak memiliki indikator yang jelas secara bentuk. Bahkan, dalam sebuah kesempatan diskusi mengenai Kota Dunia, sang dirigen mengatakan hal yang sama, ditambahnya bahwa sebuah bentuk pengakuan dunia terhadap Kota Makassar, sudah cukup membuktikan bahwa Kota Makassar telah menjadi Kota Dunia, ungkapnya. Oleh karena itu, bila ditanya tentang kemana atau akan kemana Makassar Menuju Kota Dunia, dalam sebuah kesempatan diskusi “Quo Vadis Makassar Menuju Kota Dunia”, saya menjawab hal yang serupa.

Akan tetapi, bilamana mencari potret Kota Dunia, seperti apa dan bagaimana ia, tentu kita bisa saja berspekulasi dalam hal tersebut. Kita bisa memulainya dari pengertian kota itu sendiri. yang dalam kamus tata ruang dijelaskan bahwa ia merupakan daerah pemusatan penduduk (heterogen) dengan kepadatan tinggi ditunjang dengan infrasturuktur yang lengkap dan sebagian besar penduduknya bekerja di luar pertanian. Sedangkan kata dunia adalah sebuah nama umum yang digunakan untuk menyebut keseluruhan peradaban manusia, pengalaman manusia, sejarah atau kondisi manusia secara umum di seluruh Bumi. Oleh karenanya, menarik benang merah dari kedua pengertian tersebut. Maka kota dunia ternyata adalah suatu daerah yang harus dapat mengakomodir  keanekaragman karakter manusia didalamnya, serta dari sana kemudian menciptakan suatu peradaban yang bermanfaat bagi pengalaman mansuia, menjaga serta tidak lupa meninggalkan sejarah yang dapat menjadi pembelajaran bagi segenap umat manusia.

Kota Dunia, Kota Kebersamaan

Dalam frame yang lebih dekat, kota sejatinya telah berkamuflase menjadi sebuah mini dunia, yang didalamnya terdapat beranekaragam suku, dan karakter manusia. Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB) dalam sebuah forum dunia mengeluarkan hasil penelitian mereka yang menyebutkan bahwa saat ini sebesar 54 persen penduduk dunia tinggal di kota-kota, dan pada tahun 2050, angka tersebut akan meningkat menjadi 66 persen. Ini berarti, semakin hari, dunia telah mengkota seiring dengan semakin besarnya laju urbanisasi di Kota-Kota besar, yang pada akhirnya membentuk big prular pada tataran masyarakat. Dengan begitu, menciptakan ruang yang berkeadilan untuk semua adalah tantangan pemerintah hari ini dan yang akan datang untuk dapat serta merta merangkul seluruh elemen masyarakat pada berbagai kelas melalui perencanaan pembagunan yang dapat menyatukan kebersamaan sosial. Seperti penggunaan transportasi publik pada masyarakat, ruang taman bermain untuk tumbuh kembang anak (melatih sikap sosial sedari dini), ruang terbuka hijau, ruang pertunjukan seni dan kebudayaan, serta berbagai peran suprastruktur dalam menciptakan linkungan perkotaan yang sedemikian rupa.

Kota Dunia, Kesederhanaan yang Mewah

Era postmodern telah membawa perubahan besar pada paradigma pembangunan kota, melalui keterbukaan dan kecepatan informasinya, ia telah merevolusi cara pandang kita terhadap dunia melalui kacamata global. Sehingga, ruang-ruang yang dalam skala besar seperti Negara hingga ruang-ruang terkecil yaitu ruang rumah tangga, semuanya telah terkontaminasi dengan gaya modernisasi. Dampaknya, tergeruslah warna kebudayaan yang ada pada suatu wilayah, dan jadilah kota-kota di Indonesia secara seragam memiliki karakteristik bangunan yang sama diikuti dengan gaya hidup yang jauh dari kata kearifan lokal. Padahal kenyataannya bila melirik bagaimana kota-kota seperti di Negara Mesir, Spanyol, dan China yang dikenal memiliki kota-kota dengan predikat kelas dunia, sejatinya hal tersebut bersumber pada bagaimana kebudayaan mereka melahirkan suatu peradaban yang dikenal dunia. Seperti landmark pirmadia di mesir, teknik pertanian tradisional di spanyol, hingga ramuan obat tradisional di china.

Kita bisa belajar dari cerita menarik pada sebuah tulisan “bahaya sabunisasi di Papua” yang ditulis oleh Butet Manurung dalam kolom mojok.com. Dari pengalamannya di tanah papua, ia menceritakan tentang bagaimana dampak modernisasi yang tidak hanya menggerus praktik kuno pada masyarakat, lebih dari itu ternyata  modernisasi juga telah memiskinkan masyarakat secara tidak langsung. Cerita ini terletak di salah satu desa di papua yang masyarakatnya sedang mencoba menggunakan sepatu untuk berjalan dan berburu kedalam hutan, melalui sebuah program “penyepatuan” yang dilakukan oleh sekelompok donatur. Alhasil, selama empat tahun program berjalan, masyarakat di desa tersebut kemudian menuntut donatur sepatu, ini dikarenakan setelah mereka memakai sepatu tersebut selama bertahun-tahun hingga menjadi rusak, telapak kaki masyarakat tersebut kemudian lama-kelamaan menjadi lembut, sehingga apabila berjalan di tanah Papua tanpa sepatu, mereka akan merasa kesakitan. Hal ini sangat berbeda, sebelum mereka mengenal sepatu, menjadi ketergantungan, dan membutuhkan biaya tambahan untuk membeli sepatu, yang sebenarnya didalam masyarakat rimba tidak membutuhkan itu, karena telapak kaki mereka secara alamiah telah menyesuaikan dengan morfologi yang ada didalam hutan. Dari sini kita melihat, bagaimana kemudian kita terperangkap pada cara-cara baru yang sebenarnya tidak sesuai dengan "Kita" sebagai Indonesia.

“Di dunia ini, yang paling dapat bertahan bukanlah ia yang paling kuat, melainkan ia adalah yang dapat beradaptasi dengan keadaan yang ada”. Mungkin ini adalah salah satu semboyan yang dapat menggambarkan bagaimana cerita masyarakat papua yang dipaksa untuk menggunakan sepatu oleh donatur program “penyepatuan” masyarakat pedalaman, yang pada akhirnya tidak relevan dengan lingkungan sehari-hari tempat masyarakat tersebut tinggal. Kegagalan tersebut adalah bentuk dari kekeliruan dalam menempatkan posisi kita pada lingkungan mana sebenarnya kita sedang berada.

Sejarah dunia mencatat, runtuhnya kota-kota besar di dunia, selain karena perebutan kekuasaan, juga dikarenakan kesalahan menyesuaikan antara tujuan arah pembangunan kota dengan lingkungan yang sedang mereka hadapi. Seperti pada Kota Angkot War yang pernah menjadi pusat pra-industri terbesar di dunia antara abad ke-9 sampai 15. Sebagai kebanggan dan lambang kekuasaan Kekaisaran Khmer, kota ini terkenal dengan kekayaan yang melimpah, warisan seni dan arsitektur yang mewah, jaringan saluran air yang canggih, serta waduk yang dioptimalkan untuk menyimpan air hujan untuk musim kemarau.

Namun, pada abad ke-15, Kota menakjubkan ini dipenuhi limbah akibat eksploitasi lingkungan berlebih dan krisis air yang disebabkan oleh fluktuasi iklim. Seperti yang dikatakan ilmuwan Amry Beth Day kepada Live Science “Angkor dapat menjadi contoh bahwa teknologi tak selalu cukup untuk mencegah keruntuhan peradaan selama masa-masa yang tak stabil”.

Angkor memiliki infrastruktur pengelolaan air yang sangat canggih, tetapi keberadaan teknologi ini tak cukup mencegah keruntuhan peradaban dalam menghadapi kondisi lingkungan.

Akhir Kata

Apa menariknya, bangunan-bangunan vertikal flat yang berjejer di kota-kota membentuk hutan beton. Apa Manfaatnya, penimbunan pantai, jikalau terumbu karang rusak, ikan akan mati,  langka, mahal, dan manusia akan bodoh bahkan tamat, karena tidak dapat membeli ikan. Dan Apa pula menariknya “Kota Dunia”, kalau Dunia yang dimaksud adalah sesuatu yang fana, tampak tak berwarna, jauh dari kata substansi, dan bergerak tak memiliki implikasi.

Kita di manjakan pesta-pesta pora yang mengeluarkan dana tak sedikit, sementara dilain sisi, ada keluarga yang kelaparan karena tak memiliki sesuap nasi. Janji kita membuat nyaman untuk semua, tapi apa yang kita lihat nyaman ternyata sebatas ruang dingin dibalik bangunan-bangunan yang berdiri megah. Padahal, jikalau kita merenung, pohon-pohon yang kita tebang dengan mengatasnamaakan pembangunan, sudah lebih dulu memberikan kesejukan yang tidak hanya ada didalam gedung, jangkauannya luas, seluas langit dan bumi.

Kota-Kota telah mengotak-ngotakan tindak tanduk manusia dengan menggunakan iklan "globalisai” (Dunia), hingga terpedaya dan lupa dengan kelestarian manusia dan alam yang begitu sederhana, mahal, dan berkelanjutan. Ujungnya, kita tak sadar waktu telah merubah semuanya menjadi tak berharga, padahal dari kesederhanaan, kita lebih memiliki banyak waktu, untuk dapat melaksanakan tugas wajib yang diemban oleh setiap manusia.

Penulis : Febrianto Samin