Monday, July 17, 2017

Ketika Desa dalam Pusaran Globalisasi




Dampak globalisasi dalam ruang geografis dewasa ini terlihat dengan banyaknya terjadi konsentrasi yang tidak merata baik itu di skala negara, skala regional, skala kota hingga pada skala desa. Terjadi perubahan cara pandang dalam memahami fenomena globalisasi dewasa ini. Perkembangan globalisasi secara langsung dapat kita lihat pada pengaruhnya terhadap prospek pertumbuhan sebuah negara serta dampaknya terhadap perumusan kebijakan.

Analisis yang dipergunakan dalam hal ini, berdasarkan kepada 3 (tiga) fakta mengenai teknologi dalam perdagangan dan produksi sektor-sektor modern, yaitu (a) aktivitas sektor modern dikelilingi oleh perbedaan dan perubahan skala ekonomi yang berasal dari sumber daya, baik itu sosial maupun politik yang pengaruhnya sama besar seperti halnya ekonomi; (b) Pergeseran fungsi ruang ruang, dimana ruang lingkup secara geografis serta hubungan dengan kenaikan ekonomi, serta; (c) Globalisasi merubah perdagangan internasional alamiah, yaitu melalui fasilitasi fragmentasi produksi.

Hal ini tidak saja merubah defenisi wilayah sebagai bentang geografis akan tetapi peran wiayah (termasuk desa) dalam jejaring perdagangan global, yang didefinisikan sebagai ruang produksi. Dalam ruang produk, keseluruhan wilayah tersebut menjadi terspesialisasi, bahkan mungkin spesialisasi dalam beberapa hal saja, bukan integrasi produksi keseluruhan produk.

Sementara itu, pertumbuhan biasanya bersifat sebagian-sebagaian tidak pararel, sehingga mengakibatkan beberapa wilayah akan mengalami pertumbuhan yang cepat sedangkan wilayah lain menjadi wilayah tertinggal. Lebih jauh lagi, terdapat kecenderungan yang mengalami ketertinggalan tersebut adalah masyarakat kelas menengah ke bawah, yang selama ini terkonsentrasi pada wilayah pedesaan.

Ketika globalisasi menyebabkan dispersi kegiatan, sehingga pembangunan ekonomi menciptakan ranking, tidak secara paralel, dimana wilayah pada beberapa negara (termasuk Indonesia) akan mengalami pertumbuhan yang cepat sementara yang lain akan tertinggal. Pada tingkat mikro, hal itu menunjukkan pentingnya mengatasi kegagalan koordinasi dan efek ambang batas dalam pertumbuhan kota-kota baru dan membangun industri-industri baru di negara berkembang. Maka pertanyaan besarnya adalah siapa yang dintungkan dan siapa yang akan terus tertinggal?

Anthony J. Venables (2000) mengungkapkan bahwa dampak globalisasi yang terjadi secara multispasial disebabkan oleh perbedaan skala ekonomi (disparitas equilibrium), kesenjangan upah, serta kentalnya pertumbuhan yang tidak merata. Perbedaan skala ekonomi wilayah karena perbedaan pertumbuhan dan arus investasi yang banyak terjadi pada wilayah perkotaan menjadikan wilayah perkotaan menjadi kutub abadi dari pudat pertumbuhan yang disayangkan tidak berbanding lurus dengan perkembangan wilayah hinterland-nya (wilayah pinggiran/pedesaan).

Hal ini juga serta merta berakibat pada wilayah pinggiran perkotaan dan perdesaan untuk mendapatkan manfaat untuk meningkatkan akses ke pasar besar, yang berarti terjadi kesenjangan pendapatan dan upah antara kota dan desa. Sementara itu dalam ruang produksi, wilayah perkotaan telah menjadi wilayah yang terspesialisasi dalam jejaring pasar global yang berdampak pada wilayah perkotaan akan mengalami pertumbuhan yang cepat sedangkan wilayah lain menjadi wilayah tertinggal. Lebih jauh lagi, terdapat kecenderungan yang mengalami ketertinggalan tersebut adalah masyarakat kelas menengah ke bawah di wilayah pinggiran dan perdesaan.

Isu Kebijakan Strategis

Dalam perkembangannya, pendekatan New Economic Geography menghubungkan langsung teori klasik Von Thunen tentang wilayah dan pasar. Menurut Krugman dan Fujita (2004), Von Thunen sudah meletakkan landasan teori tentang aglomerasi yang kuat dalam membuat suatu pola land use (guna lahan) suatu kota menggunakan model land use pertanian, yang dapat menjelaskan tekanan industri akan lebih besar pada pusatnya. “So economists believe that companies agglomerate because of agglomeration economies”.

Von Thunen memahami bahwa skala ekonomi di masing – masing tingkatan wilayah adalah sesuatu penting untuk pengaglomerasian industri. Dalam terminologi industri modern menurut Krugman dan Fujita (2004), new economic geographymempertimbangkan keterkaitan forward – backward linkage dengan pasar lokal besar atau untuk merencanakan suatu lokasi industri di lokasi tertentu, kita harus mampu meramalkan arah pergerakan aglomerasi industri dan manusia dengan melihat ke belakang yaitu pemahaman tentang teori aglomerasi ekonomi klasik seperti yang sudah dijelaskan oleh Von Thunen dengan sistematis.

Di sinilah arti dari “general equilibrium” yang berbicara tentang gaya centripetal (gaya ke dalam) yang menarik kegiatan ekonomi secara bersama sama dan gaya centrifugal (gaya keluar) mendorongnya beraglomerasi, dimana ruang ekonomi dibentuk oleh dua kekuatan tersebut.

Untuk mengatasi dampak negatif perdesaan dari keberadaan globalisasi, maka perlu upaya strategis sebagai upaya untuk mengurangi dampak ketimpangan wilayah pedesaan. Pertama, adalah dengan upaya mensintesis hubungan kunci antara wilayah perkotaan dan perdesaan yang saling berkomplementer (saling melengkapi) dimana desa berperan sebagai penyokong (supplier) kegiatan ekonomi perkotaan.

Perbedaan varietas sumber daya secara eksogen menjadi kekuatan utama pedesaan untuk berkembang, misalnya pada sektor pangan. Dalam keterkaitan antara wilayah perkotaan dan perdesaan, wilayah perdesaan harus didorong untuk mempu menghasilkan suatu komoditas yang mendukung sektor ekonomi utama pada wilayah perkotaan. Sementara itu wilayah perkotaan sendiri harus mampu menempatkan dirinya dalam jejaring pasar global yang lebih luas.

Kondisi ini pada akhirnya akan membentuk keterkaitan forward – backward linkage dengan pasar lokal yang tentunya akan berdampak pada peningkatan pendapatan bagi masyarakat perdesaan dan peningkatan skala pendapatan skala makro bagi wilayah perkotaan seperti yang diungkapkan oleh Von Thunen sebagai “general equilibrium”.

Penulis : Atri Munanta